Sabtu, 22 Desember 2012

Suatu Hari

"Aku kesananya sendiri aja" kataku
"Yaudah, terserah" jawabnya

Dan kemudian kami berpisah. Aku ke toko buku yang memang ingin ku tuju, bersamanya, tadinya. Sementara ia kembali masuk ke dalam bangunan itu. Aku menyusuri trotoar pagi itu dengan perasaan campur aduk. Hati kecilku tak ingin ada pertengkaran ini, tetapi otakku memaksaku untuk memikirkan apa yang dia lakukan tadi pagi sehingga membuatku kesal kepadanya.  
Aku menyebrang jalan untuk menaiki angkutan umum. Masih lengang. Tidak ada kemacetan seperti biasanya. Setelah sampai di toko buku yang ku tuju, aku mengeluarkan ponselku dari saku  dan berniat untuk mengirim pesan kepadanya. Pesan yang seharusnya tidak kukirim dan untungnya tidak jadi kukirim. Karena merasa ada yang membuntutiku, aku pun menoleh ke belakang dan benar saja. Dia ada di belakangku. 
Tuhan....
Dalam hati aku merasa senang dia membuntutiku. Ini kali pertama ada orang yang sampai mengikutiku ketika aku sedang kesal. Berlebihan tapi aku serius. Aku terlampau senang hingga akhirnya aku bernapas lega dan membiarkan kekesalanku terhadapnya menguap bersama hembusan napasku. 
Tetapi yang keluar dari mulutku hanya

"Ngapain ke sini?" bodoh. Caciku dalam hati. Kenapa pertanyaan itu yang keluar?

Dia hanya diam. Dan terus membuntutiku memilih barang-barang yang ingin aku beli. Setelah aku membayar semuanya, dia menarik lengan bajuku dan memaksaku untuk ikut bersamanya.Dia mengajakku ke tempat makan. Padahal aku bersikeras mengatakan aku ingin pulang.
Setelah memesan makanan, dia pun memulai pembicaraan yang aku sudah tahu akan kemana arahnya.

"Maaf" katanya. Tulus. 
"Gapapa" kataku. Dan memang tadi sudah kubilang aku sebenarnya sudah memaafkannya. Hanya dia yang tidak tahu.
"Serius nih minta maaf"
"Iyaa udah dimaafin"
"Ah tapi masih gitu"
Aku menghiraukan kata-katanya dan malah balik bertanya
"Ngapain ke sekolah?"
"Mau ke toko buku" jawabnya. Aku rasa dia sudah mulai ikut kesal. 
"Ngapain?"
"Menurut kamu? Aku mau nganter kamu. Alesan aku ke sekolah cuma mau nganter kamu. Tapi tadi kamunya gitu. Jadi berasa sia-sia ke sekolah"

Aku terdiam. Penyesalan datang mengaliri tubuhku.

"Maaf" katakau berbalik meminta maaf kepadanya
"Gapapa. Asal jangan marah lagi ya?"
"Iyaa"

Kemudian kami pun tersenyum. Pesanan akhirnya datang. Kami menikmatinya dalam canda. Dan memang selalu seperti itu....


19/12/2012
Rasa Utama

Terima kasih, M.
Kamu selalu membuatku merasa sempurna.



2 komentar: